Minggu, 20 Agustus 2017

Fatmawati Soekarno





Assalamualaikum wr wb.


Dalam postingan ini saya akan menjelaskan tentang sosok wanita yang menjadi pahlawan kemerdekaan Indonesia. Beliau sangat menginspirasi saya terutama dalam sikap keramah tamahannya serta rasa cinta tanah air dan semangat juangnya yang sangat tinggi.

Di tengah-tengah merebaknya semangat patriotik serta bergolaknya pergerakan nasional, tepatnya pada hari Senin, jam 12.00 (WIB) pada tanggal 5 Februari 1923, di sebuah rumah bergandeng di kampung Pasar Malabero, Bengkulu telah dilahirkan seorang anak perempuan yang ternyata dikelak kemudian hari menjadi seorang ibu negara (first lady) Republik Indonesia, dan terlibat langsung dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. seorang anak perempuan yang menginspirasi hidup saya yang bernama Fatmawati, yang mengandung arti, Bunga Teratai. Ayahnya bernama Hassan Din dan ibunya bernama Siti Chadidjah.  Ayahnya, Hassan Din adalah seorang Pengurus (pemimpin) organisasi Muhammadiyah cabang Bengkulu. Di samping, juga bekerja di Borsumij (Borneo - Sumatra Maatschappij), yaitu sebuah perusahaan swasta milik orang Belanda. Akan tetapi, ketika Hassan Din dihadapkan pada salah satu alternatif pilihan, beliau memilih keluar dari Borsumij, dan lebih memusatkan diri pada Muhammadiyah yang dipimpinnya. Sepasang suami-istri ini selanjutnya terlibat aktif dalam perserikatan Muhammadiyah.

Sosok Fatmawati ini memiliki suri tauladan yang sangatlah baik terutama dalam urusan keagaman. Sehingga beliau termasuk salah satu idola saya. Sebelum memasuki usia sekolah, Fatmawati telah menempa diri dengan “ngaji” belajar agama (membaca dan menulis Al-qur’an) pada sore hari baik kepada datuknya (kakeknya), maupun kepada seorang guru agama, di samping membantu mengurus pekerjaan orang tuanya. Fatmawati yang baru menginjak usia 15 tahun, telah mampu diajak dalam perbincangan dan diskusi mengenai filsafat Islam, hukum-hukum Islam, termasuk masalah gender dalam pandangan hukum Islam Selain itu semangat untuk belajar agama secara ekstra terutama di Sekolah Standar Muhammadiyah yang terus beliau lakukan meskipun sudah mulai memasuki sekolah di HIS (Hollandsch Inlandsch School) pada tahun 1930. Karena kegigihan dan kesungguhan beliau menuntut ilmu inilah yang memotivasi saya untuk terus menuntut ilmu, baik ilmu dunia maupun akhirat.

Bibit jati diri dengan prinsip yang teguh dan kokoh serta semangat kemandirian yang kuat telah tersemai dalam masa remaja seorang Fatmawati. Pengaruh sosialiasi melalui ajaran dan pengalaman dalam kehidupan keluarga dan lingkungan sosialnya, telah mampu membentuk karakter Fatmawati, menjadi seorang anak yang tidak sekedar patuh pada tradisinya, tetapi lebih cenderung untuk menyikapi segala bentuk potret kehidupan sosio-kulturalnya, beliau mampu mengoperasionalisasikan fungsi rasionalitasnya sebagai pengendali dari unsur-unsur emosi yang selalu merangsang dalam setiap detik kehidupan manusia. Hal tersebut memacu saya untuk tumbuh menjadi seseorang yang menjaga dan menanamkan nilai-nilai kebudayaan dan tradisi yang ada di Indonesia serta menjalin interaksi yang baik dengan orang-orang disekitar saya.

Setelah menikah dengan Presiden Soekarno secara wali pada bulan Juni 1943, Ibu Fatmawati segera berangkat ke Jakarta tidak sekedar untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri Bung Karno, pemimpin pejuang rakyat Indonesia, tetapi juga ikut berperan aktif, bergabung bersama para tokoh pejuang nasional lainnya untuk membela Nusa dan Bangsanya. Lalu, siapakah di antara sekian ratus bahkan sekian ribu tokoh pejuang bangsa Indonesia yang telah memikirkan tentang arti sebuah bendera bagi sebuah kemerdekaan bangsa ? Dan kenyataannya selama ini belum pernah ada klaim dari salah seorang pejuang yang mengaku telah mempersiapkan sebuah bendera untuk Kemerdekaan Indonesia, kecuali Ibu Fatmawati. Untuk lebih jelasnya, berikut petikan dari karya tulisan beliau yang berjudul: Catatan Kecil Bersama Bung Karno (Fatmawati, 1978: 86):

“Ketika akan melangkahkan kakiku keluar dari pintu terdengarlah teriakan bahwa bendera belum ada, kemudian aku berbalik mengambil bendera yang aku buat tatkala Guntur masih dalam kandungan, satu setengah tahun yang lalu. Bendera itu aku berikan pada salah seorang yang hadir di tempat di depan kamar tidurku.”

Atas dasar petikan tersebut di atas, cukuplah jelas, bahwa buah refleksi pemikiran perjuangan Ibu Fatmawati ternyata telah mampu melampaui batas-batas pemikiran para pejuang bangsa pada umumnya. Karena Ibu Fatmawati telah menyiapkan bendera Merah Putih jauh-jauh hari. Disinilah sebuah fakta telah berbicara, bahwa Ibu Fatmawati tidak sekedar berperan sebagai penjahit sebuah bendera pusaka, sebagaimana yang hanya dipahami oleh para generasi masa sekarang. Akan tetapi jiwa dan semangat juang yang telah diperankan beliau terasa sangat jauh dan sangat mendalam. Maka sungguhlah amat sulit untuk mengukur secara konkrit betapa besarnya jiwa kepahlawanan yang telah beliau sumbangkan kepada Nusa dan Bangsa Indonesia.  Sosok beliau yang menyiapkan bendera Merah Putih ini merupakan salah satu contoh yang membuktikan bahwa Fatmawati benar-benar mempersiapkan suatu hal dengan matang yang dimana tidak terpikirkan oleh tokoh-tokoh lainnya. Hal ini pula yang memotivasi dan mendorong saya untuk lebih berpikir kritis dalam setiap hal yang dikerjakan bahkan hal-hal kecil yang tidak dianggap penting dan tidak terpikirkan oleh orang lain. Karena suatu hal kecil dapat berdampak besar dengan apa yang kita pertanggungjawabkan. Selain itu sikap beliau yang bersungguh-sungguh serta perjuangan besar yang dilakukan olehnya ini juga menginspirasi dan menjadikannya teladan untuk menjunjung tinggi nilai bela Negara untuk saya.
Fatmawati juga memiliki rasa empati terhadap sesama kaum wanita. Salah satu prinsip yang dipegang teguh oleh beliau adalah untuk menolak sebuah tradisi yang bernama poligami, yang dianggap sangat tidak menguntungkan bagi kedudukan dan peranan wanita dalam kehidupan sosialnya. Akan tetapi suatu hari Soekarno ingin menikah lagi. Dengan begitu demi mempertahankan harga diri dan tetap berprinsip anti poligami, maka beliau berpisah dengan suami dan anak-anaknya yang dicintainya, meskipun Bung Karno tidak mengizinkannya untuk meninggalkan istana. Sikap keteguhan, keihklasan, dan berprinsip yang telah ditanamkan pada diri beliau ini sangatlah mengisnpirasi saya untuk menerapkan sikap tersebut dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam bermasyarakat. Sungguhlah tidak bisa kita bayangkan, betapa besarnya pengorbanan beliau selama masa perjuangan baik sebelum kemerdekaan maupun pasca kemederkaan bangsa Indonesia.


Demikianlah sedikit kisah tentang Ibu Fatmawati yang mengnspirasi dalam kehidupan saya. Sikapnya yang menuntut ilmu agama sejak usia dini memacu saya untuk semakin memperdalam ilmu agama juga. Pemikiran kritisnya mengenai bendera kebangsaan Indonesia yang tidak terpikirkan oleh tokoh-tokoh lain juga membuat saya sangat mengagumi sosok beliau karena hal tersebut merupakan hal kecil yang berdampak besar terhadap Indonesia, sehingga sikap beliau inilah yang menginspirasi saya untuk berpikir kritis dalam melakukan setiap hal sekalipun itu merupakan hal kecil yang tidak dipikirkan oleh orang lain. Keteguhan hati dan terus memegang teguh prinsip juga membuat saya terinspirasi untuk selalu konsisten dan bersikap menerima resiko dengan apa yang akan dan tengah saya kerjakan. Semoga postingan ini bermanfaat dan dapat menginspirasi kita sebagai bangsa Indonesia.


Wassalamualaikum wr wb.